Cerpen : Aku, Laron di Ujung Senja



Oleh Budi Bombastis


Laron. Tahukah engkau tentang hewan yang satu ini? Pernahkah engkau mengamati laron-laron berterbangan? Laron Manyu hanya keluar di musim hujan. Menari-nari bersama dinginya udara. Lantas apa yang istimewa dari seekor laron? Mengapa aku juga ingin menjadi seperti laron?
Perkenalkan, namaku Budi Sulaiman. Anak Kece dari lima bersaudara. Aku dibesarkan oleh kesederhanaan. Kesederhanaan yang dihadirkan oleh Ibu dan Bapakku. Di saat teman-temanku asyik bermain play station aku hanya bisa bermain mobil-mobilan dari bluluk kelapa (bakal kelapa yang bentuknya kecil yang biasanya jatuh) yang kuikat dengan daun nangka sebagai mobil-mobilan. Sedari kecil aku diajarkan untuk prihatin. Menggembala kambing, mencari rumput, membuat batu-bata, mengolah sawah adalah hal biasa kulakukan dari kecil. Semua itu aku jalani dengan bahagia, karena Bapak selalu ada menemaniku.
Meski Ibuku adalah seorang Pegawai Negeri, hidup kami tidaklah mewah. Pernah kami makan nasi aking, memakan singkong pemberian tetangga, memakan 3 bungkus mie instan untuk bertujuh, atau sekedar memasak bayam liar yang tumbuh di pelataran. Kami tetap bersyukur, karena pastilah masih ada orang-orang yang mungkin nasibnya tidak sebaik kami. Toh, sampai saat ini rezeki itu selalu cukup.
Orang sering mengatakan bahwa hidup ini ibarat roda yang selalu berputar. Bagiku, mungkin hal tersebut memang benar. Setidaknya, itulah yang aku alami hingga saat ini. Roda kehidupan ini terasa begitu berat untuk diputar ke atas ketika Ibuku sakit tumor, hingga harus dioperasi dengan biaya yang tak sedikit. Ayahku yang seorang pengangguran tentu tak tahu kemana harus mencari uang. Menjual sawah dan berhutang, itulah satu-satunya hal yang bisa dilakukan. Beberapa tahun setelah Ibuku sembuh, kakakku yang pertama harus mengalami gangguan jiwa yang hingga kini juga belum sembuh. Pengobatan kesana-kemari telah dijalani, namun tak ada perubahan berarti. Sekali lagi harus ada yang dikorbankan. Kambing-kambingku juga hutang yang semakin menumpuk. Waktu terus saja berjalan tanpa bisa dihentikan. Tahun 2009 hidup menjadi semakin rumit saat Bapak harus terkena kanker tenggorokan. Dia harus dirawat di Rumah Sakit Karyadi Semarang dengan biaya yang juga tak sedikit. Bergantian kami menjaganya di rumah sakit. Saat libur semester aku sempatkan waktuku untuk menjaganya. Tapi, takdir membawanya kembali kepada Sang Pencipta. Satu penyesalan terbesar dalam hidupku adalah aku tak bisa berada di sampingnya ketika waktunya membuka mata telah usai.
Semua itu membawaku pada sebuah perenungan, mengapa hidup begitu nyaman bertahan di bawah. Sulit sekali memutarnya ke atas. Bertubi-tubi cobaan itu menguji. Entah berapa kali air mata menetes atau keputusasaan terpikirkan. Perenungan ini berakhir, saat rumahku ambruk dihantam hujan. Rumah tua yang puluhan tahun tak tersentuh renovasi. Bahu membahu aku, ibu, adik, dan kakaku yang kedua mengumpulkan rezeki yang ada untuk kembali membangunya. Alhamdulillah, bersyukur atas rezeki yang selalu cukup. Diantara reruntuhan itu, aku berazam bahwa jika hidup itu seperti roda, dan roda itu ada di bawah, maka akulah yang akan mengangkatnya, memutarnya ke atas. Lantas, bagaimana aku bisa bertahan diantara jutaan ujian?
Aku mengenal islam karena warisan. Warisan aliran agama yang disampaikan turun temurun dari orang tua. Masa kecil aku sempatkan ikut dalam kegiatan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) meski akhirnya harus keluar dan belum jua lulus IQRO. Berbicara prestasi, masa sekolah dasar aku mempunyai prestasi cukup lumayan. Juara 4 dan pernah mendapat juara 3 renang. Setiap hari aku selalu berenang di sungai besar perbatasan desa itu, mencari kesenangan gratisan. Itulah yang membuatku bisa mendapat juara tiga lomba renang dari puluhan siswa lainnya. Memasuki masa Sekolah Menengah Pertama, hidupku terasa aneh. Setiap hari menjalani rutinitas yang menjemukan dan tak bermakna, seperti zombi. Pagi berangkat, siang pulang lalu main. Berangkat sekolah tak ada semangat untuk mencari ilmu, melainkan hanya untuk menghabiskan waktu seperti kebanyakan yang lain dan juga hanya untuk jajan dan bermain. Benar-benar tak ada yang istimewa, seperti nilai-nilai pelajaran yang selalu merah dan setia mengisi daftar nama siswa remidian di papan pengumuman. Masa ini juga semakin kelam saat bullyan dari teman-teman kerap aku dapatkan di sekolah. Tiga tahun yang menyebalkan.
Lulus dari Sekolah Menengah Pertama, aku mempunyai keinginan untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki jurusan perkantoran dengan harapan bisa langsung kerja usai lulus sekolah. Namun, terpaksa harus kuturuti permintaan kedua orang tuaku untuk sekolah di Sekolah Menengah Atas di desa sebelah. Alasan yang kuat membuatku tidak mungkin menolaknya. Jarak rumah dengan Sekolah Menengah Kejuruan sekitar 7 kilometer dan harus ditempuh dengan angkutan. Jika, Bapak/Ibu tidak punya uang, mau dengan apa aku berangkat? Itulah alasan yang menghancurkan segala keinginanku. Tapi, bukankah kita harus patuh terhadap orang tua kita?
Takdir tidak pernah salah. Takdirku untuk sekolah di SMA Mewah (mepet sawah) yang ada di desa sebelah membuatku mengawali cerita yang berbeda dalam hidup. Hidup yang berubah seperti zaman televisi hitam-putih menjadi televisi berwarna. Cerita diawali dari latar sebuah kelas IPS di SMA Mewah. Seorang siswa putri kelas XI yang tak kukenal menyapaku dan mengajakku untuk mengikuti sesuatu. “Budi, ikut ROHIS ya”, ucapnya. Kalimat yang membuatku bingung juga malu. Bagaimana tidak? Aku, meski dilahirkan dari keluarga Islam dengan Islam warisan ini, perilakuku masih jauh dari ajaran Islam. Mungkin sewaktu kecil aku memang menghabiskan sedikit waktu untuk ikut TPA yang tidak “Tamat”. Namun, sholat saja aku masih bolong-bolong. Parahnya lagi adalah ketika jadwal sholat Jumat tiba, aku pasti kabur entah bersembunyi di kamar atau dimana agar tidak melaksanakan sholat Jumat. Parah sekali bukan? Puasa ramadhan adalah ibadah yang paling rajin aku lakukan. Berkali-kali ibu mengingatkan bahkan hingga memukul dengan sapu agar aku mau sholat. Aku juga masih saja bebal dengan perintahnya. Aku yang seperti ini, diajak mengikuti ROHIS yang berisi anak-anak sholeh, rajin sholat, pandai membaca Al-Quran, dan lainnya. Memalukan!
Hidayah itu mahal. Karena hidayah itulah yang mungkin membuatku mau untuk mengikuti ajakan temanku tadi. Ajakan yang sebenarnya tak pernah kuiyakan dengan kata-kata. Forum ROHIS (Kerohanian Islam) di SMA Mewah sedang vakum satu tahun belakang. Kami diminta menghidupkan kembali. Kami yang hanya berisikan 3 orang siswa putra dan belasan siswi putri mencoba menjalankan apa yang dinamakan dengan dakwah. Melakukan beberapa hal yang aneh untuk dilakukan. Mengajak siswa-siswa lainnya untuk jumatan padahal aku saja tidak pernah Jumatan. Sungguh, bagiku itu aneh.
ROHIS mempertemukanku dengan mentoring. Mentoring yang artinya lingkaran, membuat aku, Nasir dan David melingkar bersama dengan Mas Daniel di serambi masjid sekolah. Mendengarkan cerita, nasihat dan ilmunya tentang Islam. Sebenarnya, kalau boleh jujur materi yang Mas Daniel sampaikan pada kami adalah materi yang sepele dan waktu lebih banyak habis untuk sekedar ngobrol. Maklumlah, beliau adalah alumni SMA yang sukses kuliah dan sekarang menjadi PNS. Kami juga senang mengikuti mentoring karena pastilah ada snack yang Mas Daniel bawakan, hehe. Yang jelas, ROHIS dan mentoring memberikan warna berbeda dalam hidupku. Tentang presepsi bahwa anak-anak ROHIS itu alim-alim, pandai baca Al-Quran, sholeh-sholeh dan sebagainya, itu hanya anggapanku saja karena disini semua masih belajar. Belajar untuk menjadi baik.
Selain aktif di ROHIS, aku juga mengikuti kegiatan di OSIS dan Dewan Ambalan Pramuka. Waktu semakin banyak habis di sekolah karena harus mengikuti pengayaan dari kelas X yaitu mulai dari jam 2 siang sampai 4 sore. Praktis setelah pulang sekolah, selesai sholat ashar di masjid sekolah aku harus bergegas pulang berganti baju lalu mencari rumput. Kambing-kambingku adalah peliharaan berharga yang bisa dijual untuk biaya sekolah. Jadi, mencarikannya makan adalah kewajiban. Diantara kesibukanku, aku tetap sempatkan waktu untuk ke masjid setiap maghrib dan juga membaca Quran. Aneh, sekali lagi ada hal aneh yang kualami. Aku yang tidak tamat IQRO tapi bisa lancar dengan sendirinya membaca Al-Quran dan lebih rajin dalam sholat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Hal yang lebih aneh lagi adalah saat kelas XI aku berhasil menduduki peringkat pertama se-IPS dan membuatku mendapat keringanan uang bulanan juga beasiswa. Hal ini kurasa sangat aneh mengingat aku tidak sempat belajar di rumah karena selepas isya langsung tidur karena kecapean. Hanya saja memang aku lebih senang mendengarkan guru saat pelajaran di kelas. Aku teringat dengan nasihat dari Mas Daniel mentorku, “Barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya”. Mungkin inikah pertolongannya? Padahal aku hanya melakukan hal kecil saja untuk Islam. Mengajak anak-anak SMA untuk Jumatan, mengajak untuk bersedekah, dan hal kecil lainnya. Aku juga ingat apa yang mentorku pernah katakan lagi padaku, “Seharian kamu duduk di kelas mendengarkan guru mengajar, tidak ada jaminan kamu bisa menjadi pintar. Bisa saja saat kamu mentoring, kamu mengaji, dzikir, sedekah, dan lainnya, Allah turunkan ilmu itu padamu”. Kufikir semuanya itu benar, karena memang ilmu itu adalah hak Allah. Dimanapun seseorang berada, jika Allah mau maka Allah akan turunkan ilmu itu padanya. Bagiku, bonus dari Allah ini terlalu besar.
Bonus itu tidak saja berhenti disitu. Sebuah pengalaman unik yang kujalani saat mengikuti SNMPTN (seleksi masuk perguruan tinggi negeri) di Jogja, kota yang baru sekali kusambangi. Tiba di Jogja kepalaku pusing, mungkin mabuk saat di bus dan memaksaku untuk istirahat lebih awal. Pagi hari, saat banyak pengadu nasib yang sama sudah di depan ruangan dengan buku-buku tebal yang berisi “mantra” kiat sukses lolos SNMPTN dan lainnya, aku lebih memilih berdiri di samping pintu ruang ujian. Mereka tidak tahu, bahwa aku juga punya mantra yang lebih ampuh. Al Fatihah dan Ayat Kursi kulantunkan dalam hati dan beberapa kali kubaca lirih seperti dukun yang sedang membaca mantera. Hasilnya? Tidak manjur sama sekali. Parah. Bagaimana mungkin aku yang tidak belajar materi SNMPTN dapat menjawab soal dengan mudah hanya karena membaca Al Fatihah dan Ayat Kursi? Konyol sekali, haha. Seingatku hanya soal Bahasa Indonesia yang kujawab lengkap. Selebihnya aku jawab sebisaku saja. Waktu ditanya oleh kakak mahasiswa tempatku menginap tentang peluangku untuk lolos, aku jawab saja sulit.
Malam itu saat mengikuti perkemahan SMA Mewah, aku mendapat kabar dari kakakku bahwa aku lolos SNMPTN dan diterima di Pendidikan Sosiologi UNY. Hatiku senang juga bingung. Masuk PTN kita harus daftar ulang dengan biaya jutaan. Hari itu adalah rabu malam. Pembayaran biaya daftar ulang paling lambat hari jumat. Aku yang mengetahui kondisi keuangan keluargaku meratap pasrah. “Jika tidak punya uang, aku tidak apa-apa tidak kuliah Bu”, kataku. Ibu tidak mungkin membiarkan begitu saja impiannya dan Almarhum Bapakku untuk menguliahkan anaknya di sekolah keguruan pupus begitu saja. Pada hakikatnya, bukankah orang tua kita akan begitu kuat dan keras berusaha demi kebahagiaan dan masa depan anaknya? Bersyukur, jalan itu ada meski harus dengan meminjam uang kesana-kemari.
Menjadi mahasiswa adalah hal yang tak pernah kutulis dalam lembaran mimpiku. Mahasiswa bukanlah kata yang sering kueja setiap kali aku berdoa. Namun, kini gelar itu bisa aku rengkuh atas doa dan perjuangan mereka, keluargaku. Dunia perkuliahan tak seperti yang ditampilkan di televisi kita. Semuanya tidak akan istimewa jika kau hanya menghabiskannya di bangku kuliah saja. Aku mengisinya dengan ikut organisasi. ROHIS, itulah yang kuikuti pertama kali. UKMF JM Al Ishlah adalah organisasi yang pertama kali kuikuti dilanjutkan dengan Himpunan Mahasiswa. Al Ishlah membawaku pada pengalaman yang lebih luas ketimbang ROHIS di SMA Mewah. Membuat agenda-agenda dakwah di Fakultas menjadi salah satu hal yang istimewa. Seistimewa orang-orang yang ada di dalamnya. Ingat, jangan berpikir mereka adalah orang-orang sholeh karena mereka adalah orang biasa yang ingin menjadi sholeh dan lebih baik. Mereka juga kocak, suka makan, suka olahraga, dan sama seperti mahasiswa lainnya. Jadi, kalau ada yang bilang ini itu tentang anak-anak ROHIS mending dicek langsung aja di TKP gan, hehe.
Empat tahun di kampus, empat tahun bersama ROHIS begitu banyak hal aku temui. Susah, sedih, berantem, kecewa semua pernah aku temui. Tapi, jika ukhuwah dan iman di atas segalanya, maka semua itu tiadalah akan terasa. Hanya menyisakan kenangan dan kerinduan. Bersama Al Islah, aku mampu mencoret beberapa mimpi yang kutulis dalam secarik kertas. Mimpiku menjadi trainer alhamdulillah bisa terwujud. Meski masih belajar, beberapa kali aku pernah mengisi kegiatan training motivasi. Lebih dari itu, sekarang aku bisa terus bernyanyi bersama grup nasyid. Nasyid yang juga aku kenal pertama kali di Al Ishlah. Ohya, perkara kuliah di kampus entah ini kebetulan atau tidak, sekali lagi Allah memberikan bonusnya di dunia. Aku ingat waktu semester-semester awal nilai-nilai kuliah kurang memuaskan. Namun, waktu aktifitas aku imbangi dengan ikut kegiatan di Al Ishlah dan Tutorial, sekarang bisa cumlaude juga meski masih aja pas-pasan, hehe. Dari pengalamanku ini aku bisa menyimpulkan bahwa bila kita dekat dengan Allah dan dekat dengan agama, maka aktifitas kita yang lain akan dimudahkan. Prestasi dan lainnya seolah mendekat kepada kita. Buktinya waktu SMP aku mengalami fase hidup yang buruk dan tak punya tujuan hidup. Itu karena aku jarang sholat dan jauh dari Allah dan Agama. Berbeda saat SMA dengan mengenal ROHIS, aku mengetahui arah tujuan hidupku ini. Semua menjadi lebih mudah dijalani. Teringat nasihat seorang ustad, bahwa kita itu ibarat televisi. Kalau televisinya burem berati ada masalah sama antena. Nah antena diibaratkan dengan hubungan kita kepada Allah. Jadi, jika antenanya baik maka gambar televisi juga baik, begitu juga apabila hubungan kita dengan Allah baik maka hidup kita juga akan baik.
Aku bisa bertahan di dalam segala cobaan yang ada adalah karena aku tahu bahwa Allah tidak pernah memberi cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Diantara cobaan yang terus datang silih berganti, juga masalah yang terus menghampiri, jika ada Allah di hati kita maka kita akan mampu menghadapinya. Bagaimana aku bisa dekat dengan Allah? Ya, aku mendapatkan hidayah dari-Nya di ROHIS SMA Mewah itu. Hidayah yang begitu mahal. Kalau boleh aku mengatakan, ROHIS adalah titik tolak dalam hidupku. Membawaku pada sebuah tujuan hidup yang tak hanya memikirkan dunia, tak hanya memikirkan diri sendiri. Itulah yang ingin aku bagikan kepada sahabat semua, bahwa lewat ROHIS aku menemukan tujuan kehidupan juga kebahagiaan dalam Islam. Semua kebahagiaan ini ingin aku bagi kepada sahabat semua bukan hanya untukku sendiri.
Lalu, apa hubungan semua ini dengan laron? Mengapa aku ingin menjadi seperti laron? Sahabat semua tahukah bahwa laron adalah hewan yang waktu hidupnya sangat singkat, yaitu satu hari saja. Sahabat semua juga tahu bukan bahwa laron memiliki dua sayap yang sangat rapuh? Mudah lepas begitu saja dari tubuhnya? Padahal, untuk memiliki sayap itu dia harus bersabar menunggu waktu yang lama, bertahan dalam gelapnya tanah selama musim kemarau. Menjadi rayap. Bayangkan, dia harus bersabar untuk bisa terbang namun saat dia sudah bisa terbang sayapnya begitu saja mudah terlepas karena begitu rapuhnya. Tahukah untuk apa dia terbang? Ya, mencari cahaya. Cahaya-cahaya lampu di pinggiran jalan saat butir hujan berjatuhan. Dalam waktu hidup yang begitu singkat, setelah penantiannya yang lama saat menjadi rayap, di musim hujan dia amat gembira mencari cahaya. Cahaya yang selama ini mereka rindukan. Menari-nari diantara lampu-lampu jalan kota, menari dengan penuh kebahagiaan di hari pertama dan terakhir dalam hidupnya. Itulah yang aku sukai dari laron. Semangat hidupnya.
Aku, laron di ujung senja. Setelah gelap hidup yang kurasa, aku mendapat cahaya hidayah yang begitu mahal datang. Aku bersiap mencari cahaya dari Allah Sang Pencipta, mengikutinya, menari dalam takdir indahNya untuk kembali padaNya bila saatnya tiba. Memberikan tarian terindah berupa perjuangan-perjuangan dakwah Islam yang kulakukan. Mengajak pada kebaikan dan menyeru kebenaran agar mereka merasa bangga dengan Islam. Bukankah di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu. Akan tetapi, bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia itu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati. Sahabatku semua, biarlah hidayah menjadi hak Allah. Tapi nasihat dan ajakan pada kebaikan teruslah kita lakukan. Bukankah batu yang keras juga akan pecah apabila terkena tetesan air terus menerus. Doaku semoga aku tak terlambat memberi yang terbaik dari hidupku. Untuk sahabatku yang berjuang di jalan dakwah, teruslah berdakwah dengan bahasamu, berdakwah dengan caramu, dan berdakwah sesuai kemampuanmu. Asalkan untuk kebaikan, meskipun itu pahit, perjuangkanlah. Untuk sahabatku lainnya, tidakkah ada keinginan dalam hati kalian untuk merasakan indahnya hidup dalam bingkai Islam? Pastilah kalian ingin merasakannya bukan? Mungkin hanya hidayah itu saja yang belum datang. Merasuki relung-relung hati yang dalam dan terkadang gelap juga hampa. Sahabatku, ingatlah bahwa hidayah itu untuk dicari bukan hanya sekedar dinanti. Semoga engkau menjadi laron selanjutnya, yang menari bersamaku diantara cahaya lampu jalan kota saat bulir hujan itu datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Teks Prosedur : Kiat Belajar Menyenangkan

Puisi Prosais

Cerpen : Kebersihan Sebagian dari Iman